Monday, April 6, 2020

Kembali Pulang


KEMBALI PULANG
Cerpen Agus Salim

Hujan baru saja reda. Sisa gerimisnya menghias malam yang baru saja bersandar. Rasa dingin mulai meraba-raba kulit ariku. Kusruput lagi wedang kopi yang sedari tadi ada di sebelahku, tinggal ampas. Niatku sekedar menghangatkan badan. Tapi tetap saja dingin dan bulu-bulu kulitku pun mulai merinding.
Dari balik gerimis, sepertinya ada sekelebatan tubuh perempuan. Tubuh yang tidak asing, aku mengenalnya.
“Ah, tidak mungkin,” gumamku. Lalu kubuka gulungan sarungku untuk kujadikan selimut sekaligus melupakan apa yang baru saja terjadi.
Belum selesai aku membuka gulungan sarungku, seorang perempuan telah duduk di sampingku. Rambutnya terurai. Ada aroma bunga bertebaran menyertainya. Aku tidak percaya dengan pandanganku. Mungkin ini hanya halusinasi.
“Kedinginan ya Mas?”, sapanya. Suara itu sungguh aku kenal.
Di bawah sorot lampu neon yang remang kuamati perempuan itu. Dia hanya merunduk.
“Kamu Siapa?”, tanyaku penasaran.
“Aku Mas”, jawabnya seraya menoleh ke arahku perlahan. Begitu melihat wajahnya, sungguh aku kaget. Seluruh tubuhku gemetaran. Keringat dingin bercucuran. Jantungku pun berdegup tak menentu. Lalu tubuhku lunglai seperti kekurangan oksigen.
ooOoo


Pemandangan ini sungguh indah. Ada air bening yang mengalir. Bunga-bunga bermekaran di bawah langit yang cerah. Hawanya pun sejuk membuatku betah untuk tinggal.
“Gimana Mas, senang kan di sini?”, tanyanya membuat perhatianku beralih padanya.
Aku diam dan membiarkannya menggamit tanganku. Aku terkesima melihat  penampilannya saat ini. Ia kelihatan lebih cantik dan lebih ceria dari biasanya. Rambutnya berurai, wajahnya seperti bercahaya. Ia tampak sangat bahagia. Dan lebih mengherankanku lagi, selalu dari tubuhnya bertebar aroma wangi.
“Mas, kok diem sih”, sergahnya sambil menggerak-gerakkan tanganku.
“Oh..ya..iya..aku betah di sini. Pemandangannya sangat indah”, jawabku setengah kaget.
“Ini tempat apa?”, tanyaku
“Ah, sudahlah mas. Yang penting dinikmati aja keindahannya.” Jawabnya.
Perlahan ia menarik tanganku. Kami melangkah pelan menuju ke bawah sebuah pohon. Pohon yang tidak aku kenal jenisnya. Pohon yang belum pernah aku lihat selama ini. Di bawahnya memang rindang, nyaman untuk bersantai. Ada banyak buah yang bergelantungan di ranting-rantingnya. Buah berwarna hijau kekuningan, masih ranum. Sepertinya buah itu segar untuk dimakan. Jujur, aku tertarik dan ingin memetiknya.
“Selama ini aku di sini, Mas.”, katanya
“Lalu, kenapa kamu bawa aku ke sini”, tanyaku.
“Kan waktunya aku pulang, Mas. Ya..sekedar melihat keadaanmu dan anak-anak. Tapi ketika nyampek rumah, aku melihat Mas sendirian di depan rumah. Sepertinya Mas kesepian. Kupikir tidak ada salahnya jika Mas kuajak ke sini. Biar tahu tempat dan keadaanku saat ini”, jawabnya.
“Ini tempat apa”.
“Aku juga tidak tahu. Tapi aku senang di sini. Semua yang kuperlukan selalu ada. Sepertinya semua itu juga karena Mas dan anak-anak rajin mengirimiku doa-doa”.
Aku hanya mengangguk perlahan mendengar jawabannya walau sebenarnya aku tidak sebegitu paham yang dia maksudkan.
ooOoo

“Anak-anak?”, aku terkaget begitu dia menyebut anak-anak untuk kedua kalinya. Dibenakku lalu terbayang wajah anak-anakku, terutama Devi. Kami dikarunia tiga anak. Devi anak kami yang paling kecil, masih berusia dua tahunan. Sejak lahir telah ditinggal ibunya. Sulastri, istriku, meninggal ketika melahirkannya.
“Oh, Tuhan. Lastri? Lastri? Apakah dia, Lastri istriku?”, gumamku. Bukankah dia telah meninggal. Bagaimana mungkin dia bisa mengajakku ke tempat ini? Orang  yang sudah meninggal, apa mungkin masih bisa berinteraksi dengan orang yang masih hidup? Ataukah aku juga sudah mati. Ah..tidak mungkin.
“Ya. Mas, ada apa?” perempuan itu menyergah gumamanku seraya mendekatiku.
“Ah, tidak. Tidak apa-apa kok.”
“Sepertinya tadi nyebut-nyebut namaku?”
“Tadi aku hanya ingin meyakinkan diri. Bahwa kamu adalah Lastri, istriku”.
“Benar Mas. Aku Sulastri, istrimu. Memangnya kenapa? Mas tidak suka bertemu aku?”.
“Bukan. Bukan begitu. Aku hanya heran. Bukankah kamu sudah meninggal. Lalu bagaimana bisa, sekarang kita berdekatan dan bincang-bincang seperti ini? Apakah aku juga sudah mati?”
“Belum Mas. Belum waktunya. Oh ya, sepertinya Mas memang harus segera kembali. Sini, ikut aku Mas!”
ooOoo

Lastri berjalan setengah berlari sambil memegang lenganku. Aku mengikuti apa yang dia lakukan walaupun aku sendiri tidak tahu ke mana aku akan dibawa. Jujur, di tempat ini aku tidak tahu arah.
“Mas, kutitip anak-anak. Jaga dan bimbing mereka dengan baik ya!” katanya sambil berjalan.
Aku hanya mengangguk.
“Mas, perhatikan garis putih itu. Di situlah Mas harus berjalan menuju pulang.”
“Itu sinar apa, Las?”
“Entahlah. Memang seperti sinar. Tapi, sudahlah. Yang penting, Mas harus segera ke sana sebelum waktunya habis.”
Terpaksa aku menyimpan keingintahuanku. Aku melangkahkan kaki menuju sinar itu. Aku ragu untuk menapakkan kaki. Kutoleh Lastri, dia ternyata sudah tidak ada. Maka mau tidak mau aku harus memberanikan diri menappakkan kaki di atas sinar putih tersebut. Terasa dingin. Aku tak peduli. Yang penting aku harus kembali pulang. Di sekeliling jalan yang kutapaki ini tanpa warna selain putih, tanpa kelokan satupun. Aku berjalan, terus berjalan untuk mencapai ujung jalan. Aku mulai mendengar ayam-ayam jantan berkokok di sana-sini.
ooOoo

“Ada apa ini?”, tanyaku.
Aku melihat banyak orang di rumahku. Di ruang depan ada beberaan tikar dan beberapa orang sedang berdoa. Sebagian dari mereka ada yang membaca Al-Quran. Sementara di halaman depan ada yang duduk-duduk seperti menunggu sesuatu.
“Gimana Pak?’, kata Giman yang tiba-tiba muncul dari ruang tengah.
“Sabar, Pak RT. Kita tunggu Pak Mudin. Apa pak RT yang mau mengafani?’, jawab Pak Parto yang kepala dusun itu.
Mengafani? Memangnya siapa yang meninggal? Keheranan mulai menggerayangi pikiranku. Aku terus mendekati rumahku. Aku pun ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi. Aku sudah mendekati pintu pagar bahkan telah melewati beberapa orang. Tapi aneh. Mengapa tidak satupun dari mereka menyapaku. Aku terus saja berjalan menuju pintu ruang depan. Dari situ aku melihat tubuh terbaring yang ditutupi secarik jarit. Kudekati tubuh denngan penuh penasaran. Lalu kubuka jarit itu perlahan. Ternyata tubuh itu adalah tubuhku. Karena kaget, aku buang jarit itu. Segera kurangkul tubuhku. Terasa aku tersedot ke ragaku. Kucoba  melepaskan diri tapi bisa. Dengan sekuat tenaga kugerakkan tanganku. Tetap tidak bisa. Lalu kuulangi, dengan sekuat-kuatnya kubentangkan tanganku. Berhasil. Rupanya tali ikatan di pergelangan tanganku lepas. Kubuka mataku. Lamat-lamat juga dengar jeritan-jeritan histeris.
“MasyaAllah...., masyaAllah... Maksum, kamu kembali...,” suara Giman terdengar berteriak lantang.
Rupanya, dari sekian yang hadir di rumahku, hanya Giman yang berani mendekat. Kulihat dia tersenyum sambil memandangiku. Lalu merangkulku dengan erat.
ooOoo



Agus Salim,
Lahir di kota Situbondo. Kini tinggal di Ds. Gebangsari-Jatirejo-Mojokerto. Bisa saling sapa di whatsapp 0859194767672, www.facebook.com/gusmilas, atau di gussalim66@gmail.com.

No comments: