KEMBALI
PULANG
Cerpen
Agus Salim
Hujan
baru saja reda. Sisa gerimisnya menghias malam yang baru saja bersandar. Rasa
dingin mulai meraba-raba kulit ariku. Kusruput lagi wedang kopi yang sedari
tadi ada di sebelahku, tinggal ampas. Niatku sekedar menghangatkan badan. Tapi
tetap saja dingin dan bulu-bulu kulitku pun mulai merinding.
Dari
balik gerimis, sepertinya ada sekelebatan tubuh perempuan. Tubuh yang tidak
asing, aku mengenalnya.
“Ah,
tidak mungkin,” gumamku. Lalu kubuka gulungan sarungku untuk kujadikan selimut
sekaligus melupakan apa yang baru saja terjadi.
Belum
selesai aku membuka gulungan sarungku, seorang perempuan telah duduk di
sampingku. Rambutnya terurai. Ada aroma bunga bertebaran menyertainya. Aku
tidak percaya dengan pandanganku. Mungkin ini hanya halusinasi.
“Kedinginan
ya Mas?”, sapanya. Suara itu sungguh aku kenal.
Di
bawah sorot lampu neon yang remang kuamati perempuan itu. Dia hanya merunduk.
“Kamu
Siapa?”, tanyaku penasaran.
“Aku
Mas”, jawabnya seraya menoleh ke arahku perlahan. Begitu melihat wajahnya,
sungguh aku kaget. Seluruh tubuhku gemetaran. Keringat dingin bercucuran.
Jantungku pun berdegup tak menentu. Lalu tubuhku lunglai seperti kekurangan
oksigen.
ooOoo
Pemandangan
ini sungguh indah. Ada air bening yang mengalir. Bunga-bunga bermekaran di
bawah langit yang cerah. Hawanya pun sejuk membuatku betah untuk tinggal.
“Gimana
Mas, senang kan di sini?”, tanyanya membuat perhatianku beralih padanya.
Aku
diam dan membiarkannya menggamit tanganku. Aku terkesima melihat penampilannya saat ini. Ia kelihatan lebih
cantik dan lebih ceria dari biasanya. Rambutnya berurai, wajahnya seperti
bercahaya. Ia tampak sangat bahagia. Dan lebih mengherankanku lagi, selalu dari
tubuhnya bertebar aroma wangi.
“Mas,
kok diem sih”, sergahnya sambil menggerak-gerakkan tanganku.
“Oh..ya..iya..aku
betah di sini. Pemandangannya sangat indah”, jawabku setengah kaget.
“Ini
tempat apa?”, tanyaku
“Ah,
sudahlah mas. Yang penting dinikmati aja keindahannya.” Jawabnya.
Perlahan
ia menarik tanganku. Kami melangkah pelan menuju ke bawah sebuah pohon. Pohon
yang tidak aku kenal jenisnya. Pohon yang belum pernah aku lihat selama ini. Di
bawahnya memang rindang, nyaman untuk bersantai. Ada banyak buah yang
bergelantungan di ranting-rantingnya. Buah berwarna hijau kekuningan, masih
ranum. Sepertinya buah itu segar untuk dimakan. Jujur, aku tertarik dan ingin
memetiknya.
“Selama
ini aku di sini, Mas.”, katanya
“Lalu,
kenapa kamu bawa aku ke sini”, tanyaku.
“Kan
waktunya aku pulang, Mas. Ya..sekedar melihat keadaanmu dan anak-anak. Tapi
ketika nyampek rumah, aku melihat Mas sendirian di depan rumah. Sepertinya Mas
kesepian. Kupikir tidak ada salahnya jika Mas kuajak ke sini. Biar tahu tempat
dan keadaanku saat ini”, jawabnya.
“Ini
tempat apa”.
“Aku
juga tidak tahu. Tapi aku senang di sini. Semua yang kuperlukan selalu ada. Sepertinya
semua itu juga karena Mas dan anak-anak rajin mengirimiku doa-doa”.
Aku
hanya mengangguk perlahan mendengar jawabannya walau sebenarnya aku tidak
sebegitu paham yang dia maksudkan.
ooOoo
“Anak-anak?”,
aku terkaget begitu dia menyebut anak-anak untuk kedua kalinya. Dibenakku lalu
terbayang wajah anak-anakku, terutama Devi. Kami dikarunia tiga anak. Devi anak
kami yang paling kecil, masih berusia dua tahunan. Sejak lahir telah ditinggal
ibunya. Sulastri, istriku, meninggal ketika melahirkannya.
“Oh,
Tuhan. Lastri? Lastri? Apakah dia, Lastri istriku?”, gumamku. Bukankah dia
telah meninggal. Bagaimana mungkin dia bisa mengajakku ke tempat ini? Orang
yang sudah meninggal, apa mungkin masih bisa berinteraksi dengan orang
yang masih hidup? Ataukah aku juga sudah mati. Ah..tidak mungkin.
“Ya.
Mas, ada apa?” perempuan itu menyergah gumamanku seraya mendekatiku.
“Ah,
tidak. Tidak apa-apa kok.”
“Sepertinya
tadi nyebut-nyebut namaku?”
“Tadi
aku hanya ingin meyakinkan diri. Bahwa kamu adalah Lastri, istriku”.
“Benar
Mas. Aku Sulastri, istrimu. Memangnya kenapa? Mas tidak suka bertemu aku?”.
“Bukan.
Bukan begitu. Aku hanya heran. Bukankah kamu sudah meninggal. Lalu bagaimana
bisa, sekarang kita berdekatan dan bincang-bincang seperti ini? Apakah aku juga
sudah mati?”
“Belum
Mas. Belum waktunya. Oh ya, sepertinya Mas memang harus segera kembali. Sini,
ikut aku Mas!”
ooOoo
Lastri
berjalan setengah berlari sambil memegang lenganku. Aku mengikuti apa yang dia
lakukan walaupun aku sendiri tidak tahu ke mana aku akan dibawa. Jujur, di
tempat ini aku tidak tahu arah.
“Mas,
kutitip anak-anak. Jaga dan bimbing mereka dengan baik ya!” katanya sambil
berjalan.
Aku
hanya mengangguk.
“Mas,
perhatikan garis putih itu. Di situlah Mas harus berjalan menuju pulang.”
“Itu
sinar apa, Las?”
“Entahlah.
Memang seperti sinar. Tapi, sudahlah. Yang penting, Mas harus segera ke sana
sebelum waktunya habis.”
Terpaksa
aku menyimpan keingintahuanku. Aku melangkahkan kaki menuju sinar itu. Aku ragu
untuk menapakkan kaki. Kutoleh Lastri, dia ternyata sudah tidak ada. Maka mau
tidak mau aku harus memberanikan diri menappakkan kaki di atas sinar putih
tersebut. Terasa dingin. Aku tak peduli. Yang penting aku harus kembali pulang.
Di sekeliling jalan yang kutapaki ini tanpa warna selain putih, tanpa kelokan
satupun. Aku berjalan, terus berjalan untuk mencapai ujung jalan. Aku mulai
mendengar ayam-ayam jantan berkokok di sana-sini.
ooOoo
“Ada
apa ini?”, tanyaku.
Aku
melihat banyak orang di rumahku. Di ruang depan ada beberaan tikar dan beberapa
orang sedang berdoa. Sebagian dari mereka ada yang membaca Al-Quran. Sementara
di halaman depan ada yang duduk-duduk seperti menunggu sesuatu.
“Gimana
Pak?’, kata Giman yang tiba-tiba muncul dari ruang tengah.
“Sabar,
Pak RT. Kita tunggu Pak Mudin. Apa pak RT yang mau mengafani?’, jawab Pak Parto
yang kepala dusun itu.
Mengafani?
Memangnya siapa yang meninggal? Keheranan mulai menggerayangi pikiranku. Aku
terus mendekati rumahku. Aku pun ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi. Aku
sudah mendekati pintu pagar bahkan telah melewati beberapa orang. Tapi aneh.
Mengapa tidak satupun dari mereka menyapaku. Aku terus saja berjalan menuju
pintu ruang depan. Dari situ aku melihat tubuh terbaring yang ditutupi secarik
jarit. Kudekati tubuh denngan penuh penasaran. Lalu kubuka jarit itu perlahan.
Ternyata tubuh itu adalah tubuhku. Karena kaget, aku buang jarit itu. Segera
kurangkul tubuhku. Terasa aku tersedot ke ragaku. Kucoba melepaskan diri tapi bisa. Dengan sekuat
tenaga kugerakkan tanganku. Tetap tidak bisa. Lalu kuulangi, dengan
sekuat-kuatnya kubentangkan tanganku. Berhasil. Rupanya tali ikatan di
pergelangan tanganku lepas. Kubuka mataku. Lamat-lamat juga dengar
jeritan-jeritan histeris.
“MasyaAllah....,
masyaAllah... Maksum, kamu kembali...,” suara Giman terdengar berteriak
lantang.
Rupanya,
dari sekian yang hadir di rumahku, hanya Giman yang berani mendekat. Kulihat
dia tersenyum sambil memandangiku. Lalu merangkulku dengan erat.
ooOoo
Agus
Salim,
Lahir
di kota Situbondo. Kini tinggal di Ds. Gebangsari-Jatirejo-Mojokerto. Bisa
saling sapa di whatsapp 0859194767672, www.facebook.com/gusmilas,
atau di gussalim66@gmail.com.
No comments:
Post a Comment