LIONTIN CURTINA
Oleh Agus Salim
Di sepanjang perjalanan pulang ini,
mulutku bungkam. Deana yang duduk di sampingku pun diam. Dari wajahnya
terlihat, sepertinya dia masih kesal.
Kami sama-sama diam, menyimpan perasaan masing-masing. Ada kebimbangan dalam batinku untuk memulai pembicaraan. Untuk menyampaikan kebenaran yang membuatnya kesal.
Kami sama-sama diam, menyimpan perasaan masing-masing. Ada kebimbangan dalam batinku untuk memulai pembicaraan. Untuk menyampaikan kebenaran yang membuatnya kesal.
“Maafkan aku Dea, aku belum mampu
bercerita”, desahku dalam batin. Jujur, aku memang bukan tipe lelaki pencerita.
Untuk keterampilan yang satu ini sepertinya aku memang tidak punya. Setiap kali
akan bercerita, aku seakan kehabisan kata. Lebih-lebih dalam kondisi seperti
ini. Perasaaan lawan bicaraku kurang
menyenangkan, lidahku semakin kelu. Perasaanku terasa tertekan.
Lalu aku berusaha mengembalikan
konsentrasiku menyetir mobil yang aku kendarai.
“Tuh, lihat. Gadis idamanmu’, tiba-tiba
Deana membuka mulut seraya telunjuknya menuding ke depan.
Aku tidak begitu menghiraukan ucapannya
itu. Yah, walaupun mataku akhirnya juga mengikuti arah telunjuknya. Memang, di
sekitar tiang bangjo, ada
perempuan muda yang berjalan sambil memondong tumpukan koran. Tangan kanannya
melambai-lambaikan salah satu koran dagangannya sambil mendekati mobil-mobil
yang mulai berhenti. Aku dengan segera menutup kaca pintu begitu dia mulai
melangkah ke arahku. Tapi tetap saja dia mendekati mobil yang aku naiki.
“Mas, koran..korannya..Mas”, suaranya
terdengar lirih. Aku menoleh sekilas. Biasa, lagi-lagi sasaran pandangku pada
bagian leher dan dadanya. Lalu aku melempar senyum sambil mengangkat tangan
kananku. Dia hanya mengangguk dan berlalu.
“ Lho, kok malah ditutup kacanya? Tidak
beli Mas?”, ujar Dea.
“Ndak....tuh lampunya udah ijo..”,
jawabku ringkas.
“Biasanya Mas Idan kan mesti beli, katanya kasihan”, tambahnya
“Udahlah, tidak apa-apa. Aku lagi
males”, jawabku lagi. Rupanya usahaku untuk mengalihkan perhatiannya gagal.
“Ya, udah. Tapi...”.
“Tapi apa?”, tanyaku penasaran
“Seperti biasa. Cara pandangmu itu lho.
Rasanya kok lain. Mata Mas Idan mesti di daerah tertentunya”, kata Dea sambil
melirikku.
“Ah, kamu ini ada-ada saja. Aku hanya
melihat seperti ada sesuatu yang aneh pada diri gadis itu”, jawabku sekenanya.
“Lhaaa..ya kaaan”, kata Dea beringsut
dari duduknya.
“Ah, sudahlah Dea, jangan dibahas lagi”,
pintaku sambil terus menekan gas mobil untuk mempercepat lajunya.
Deana memang diam. Tapi sikap dan
matanya menunjukkan ketidakpuasan. Sepertinya dia penasaran atau mungkin malah
curiga.
“Mas Aidan menyukai gadis itu, ya?”,
tanya Deana tiba-tiba.
Aku diam saja. Pura-pura tidak mendengar
ucapannya. Aku terus memperhatikan jalanan yang ramai.
Benarkah aku menyukai gadis di pinggir
jalan itu? Entahlah. Tapi aku memang memiliki perhatian khusus padanya.
Setidaknya aku memang mengaguminya. Dia seorang wanita belia yang sedang
berjibaku mempertahankan hidupnya sendiri. Berjuang di antara deru mesin dan
asap knalpot serta beratap terik matahari. Seorang wanita muda yang memiliki
pertahanan hidup yang tangguh. Sebuah sikap dan perilaku yang langka di jaman
yang penuh dengan hiruk pikuk kemewahan ini. Apalagi gadis muda ini, selalu
mengenakan baju seragam sekolahnya setiap kali berjualan koran. Tanpa ada rasa
canggung dan malu, dia wira wiri di jalanan yang penuh dengan tatapan mata.
Gadis muda itu sepertinya menyadari
bahwa hidup ini memang perjuangan. Tidak ada kebahagiaan hidup yang bisa
dicapai tanpa perjuangan. Setiap orang memang harus memperjuangkan nasib
hidupnya sendiri. Menggantungkan hidup pada orang lain merupakan sikap dan
tindakan yang tercela. Malu? Harus ditinggalkan selama apa dilakukan tidak
menyalahi tatanan agama dan sosial. Ah, kenapa aku kok malah seperti menjadi
anggota kaum arifin ya?
Memang, setiap kali bertemu dengannya,
perasaanku tidak seperti biasa. Lebih-lebih ketika aku melihat bagian antara
leher dan dadanya, jantungku berdegup kian kencang. Seluruh tubuh seperti
menggigil. Mataku lalu bergenang air, seakan ada sesuatu mendorong dari lubuk
hati. Sesuatu yang mengharukan. Perasaan ini senantiasa aku sembunyikan dari
Deana, yang suatu ketika pernah menanyaiku kenapa aku selalu membeli koran yang
ditawarkan gadis muda itu. Padahal aku sudah berlangganan koran yang sama.
Selalu aku jawab dengan kata “kasihan”. Biasanya Deana lalu diam.
“Mas...! Mas Aidan! Udah nyampek nih”,
tiba-tiba Deana bersuara . Aku sedikit kaget. Untungnya aku tidak serta merta
menginjak pedal rem. Sehingga aku bisa meminggirkan mobil dengan tenang.
“Tidak mampir dulu, Mas?”, tanyanya
sambil membuka pintu mobil.
“Tidak Dea. Aku langsung pulang dulu
ya?”, jawabku.
“Ok, Mas. O iya, besok Mas Idan tidak
usah susul aku. Aku tadi sudah minta ijin untuk cuti dua hari ke bagian
personalia”,
“Cuti? Memangnya kamu kenapa kok cuti”.
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin
istirahat aja. Capek Mas kerja terus”.
“O gitu. Ya udah. Selamat beristirahat ya. Besok sepulang kerja
aku mampir ke sini”.
“Ya, Sayang.. Aku tunggu lho”.
Kubalas jawaban Dea itu dengan senyum
yang kubuat semanis mungkin. Sungguh aku memang sangat bahagia setiap kali dia
memanggilku “sayang”. Dea melangkah menuju gerbang pagar rumahnya. Aku lalu
kembali menginjak pedal gas mobil untuk melanjutkan perjalanan menuju rumahku.
*****
Pagi di jalanan, seperti biasa, ramai.
Suara mesin menderu berbaur dengan lengkingan klakson kendaraan. Udara perlahan
mulai pengap dengan asap knalpot. Maka wajar jika para pengendara motor di samping
helm juga memasangkan masker untuk menjaga hidung dan mulutnya agar tidak turut
mengasup asap-asap yang menyesakkan itu. Ada juga sih sebagaian dari mereka
yang dengan ugal-ugalan berkendera dengan kecepatan tinggi tanpa menggunakan
helm ataupun masker. Mungkin merekalah orang-orang hebat yang berani menantang
sakit bahkan maut. Orang-orang seperti mereka mungkin bisa dibilang termasuk
orang yang egois. Mengedepankan enaknya sendiri tanpa mempertimbangkan
keselamatan orang. Tapi, bagaimana mungkin mereka bisa memikir keselamatan
orang lain, sementara untuk menjaga keselamatan dirinya saja enggan. Ah,
sudahlah.
Tanpa terasa aku udah sampai di
perempatan itu. Perlahan kuhentikan mobilku karena memang lampu stopan atau bangjo,
kata orang Jawa, sedang merah. Heran, aku belum melihat gadis itu. Aku
tolah-taleh ke segala arah. Belum juga melihat gadis itu.
“Koran....koran..”, terdengar suara
penjaja koran dari arah belakang.
“Koran..!”, panggilku. Anak kecil
mendekat ke arahku sambil menyodorkan koran yang aku minta. Sebenarnya membeli
koran bukan tujuan utamaku.
“Dik, gadis yang biasanya jualan koran
itu di mana ya? Kok tidak kelihatan, nggak jualan?”, tanyaku pada anak kecil
itu.
“Yang biasanya pakai seragam?”, dia
balik nanya. Aku mengangguk.
“Dia itu Ina, kakakku. Lagi ujian, Mas.
Ujian semester katanya”.
“Oh, gitu. Berarti ndak jualan”.
“Jualan, nanti siang sampaai sore”.
“Lah, kamu nggak sekolah?”.
“Libur Mas, kan sekolahanku ditempati
ujian”.
“Hmmm...Gitu. Sudah ya..makasih”.
jawabku sambil tanganku mengusek-usek kepalanya. Anak itu hanya
tersenyum.
“Makasih juga Mas..”.
Suara klakson menderu dari belakang.
Rupanya lampu hijau telah menyala. Aku dengan segera menginjak perlahan pedal
gas mobilku untuk melanjutkan perjalanan. Enath kenapa dibenakku selalu
membayang gadis penjual koran itu.
“Ina, itu namanya”, gumamku sendiri.
Siapa sebenarnya gadis itu. Setiap kali
bertemu, mengapa selalu menyisakan pikiran dan perasaan aneh padaku.
Lebih-lebih jika aku melihat bagian antara leher dan dadanya itu. Kalung emas
yang dikenakannya telah menyita perhatianku. Desian rantainya memiliki
kesamaan. Apa mungkin? Apakah kalung Ina itu hanya kalung biasa. Hanya rantai,
tanpa asessoris lain?
*****
Jam menunjukkan pukul 15.00 wib. Aku
bersegera keluar dari kantor tempatku bekerja. Aku keluar dengan membawa satu
tekad, bertemu gadis penjaja koran itu, Ina. Gadis yang ternyata masih
bersekolah di balik kesibukannaya mencari nafkah di jalanan. Perkiraanku gadis
itu berusia 18 tahunan. Berarti, kemungkinan dia sekaran sudah kelas duabelas,
atau kelas tiga SMA. Secara fisik, parasnya vukup cantik. Dia sebenarnya
berkulit cukup bersih berwarna kekuningan yang hangat, kuning langsat. Aku bisa
melihatnya ketika jilbab yang dikenakannya tersibak angin. Aku mencuri
pandangan. Bagian luar kulitnya memang agak gelap. Yah, mungkin karena terlalu
sering terkena terik matahari.
Tak terasa aku sudah sampai di
perempatan jalan, tempat Ina mangkal. Aku, lagi-lagi tolah-toleh mencari
keberadaannya. Aku belum juga melihatnya sliweran di sekitar tiang stopan itu.
Lalu mataku mengarah ke seberang jalan, di pojokan dekat warung kopi. Di sana
aku melihat ada dua perempuan yang sedang berbincang. Aku dekatkan mobilku
perlahan. Dialah Ina. Tapi perempuan yang satunya? Siapa dia? Setelah mematikan
mesin mobilku di pinggir jalan, aku turun mendekati mereka.
“ Tapi Mbak. Aku ini sedang cari nafkah
untuk ibu dan adikku’.
“Tapi tidak di sini dong jualannya”,
kata perempuan berhelm itu
“Memangnya kenapa Mbak, kok mbak ini
sewot”, jawab Ina.
“Kamu jualan di sini untuk menggoda Mas
Idan kan?”, kata perempuan itu. Aku kaget juga ketika perempuan itu menyebut
namaku. Setelah dia buka helam baru aku tahu kalau dia adalah Deana. Tapi untuk
apa dia berpenampilan tomboy dan berhelm tropong seperti itu.
“Idan siapa?”.
“Pacarku, dia yang selalu beli koran ke
kamu di sini”.
“Oo..honda jazz hitam itu”.
“Ya..! Itu...”.
Maaf, Mbak. Aku tidak punya maksud
apapun sama dia. Aku hanya menjual koran-koranku. Lagian, namanya saja ku baru
dengar. Memangnya aku harus pindah, gitu?”
“Ya laah..cari tempat lain..!”.
“Mbak..mbak.. kamu ini aneh. Kalau pun
aku pindah tempat, bisa saja aku tetap ketemu dia. Namanya juga jalan..dan
mobil jalannya lewat jalan kan?”
“Kamu ini! Berdaliih...!”, sentak Deana
sambil mengangkat tangan kanannya siap untuk menmpar Ina. Tapi untungnya aku
sudah agak dekat sehingga sempat menangkap tangannya. Sekalipun tangan Deana aku pegang, sepertinya
tetap saja ina terjungkal jatuh. Rupanya ketika akan menghindari tamparan Dea,
kakinya tersandung pembatas jalan. Dia lalu jatuh terjerembab.
“Dea, apa-apan sih. Lihat tuh, jatuh
kan...”, bentakku sambil memegang tangannya. Entah kenapa tiba-tiba aku
melepaskan tangan Deana dengan agak keras, sampai-sampai tubuhnya agak
berputar.
“Maaas...!”, teriak Dea.
Aku tidak mempedulikan teriakan Deana.
Aku malah memilih mendekati Ina yang sedang berusaha bangkit. Koran-kora dan
majalahnya berhamburan karena terpental.
“Ina, kamu tidak apa-apa kan?’, tanyaku.
Ina tidak langsung menjawab. Dia
melihatku dengan ekspresi heran.
“Tidak. Tidak apa-apa kok mas. Kok tahu
namaku?”, jawabnya
“Sudahlah, ayo aku bantu mengambil
barang-barangmu”.
“Ya, kaan. Mas sudah kenal sama
perempuan ini”, tiba-tiba Dea bersuara keras.
Lagi-lagi, tidak aku hiraukan. Aku
sibukkan diri mengambili koran dan majalah milik Ina yang berantakan.
“Loh, kalungku di mana ya...?”, Ina
berdiri sambil mencari-cari sesuatu. Kalung? Aku hentikan sejenak kegiatanku.
Mataku lalu ikut mencar-cari kalung yang dimaksudkan Ina. Dan, persis di
sebelah ban sepeda Deana, aku melihat sesuatu yang membuat aku agak terhentak.
Sebuah liontin. Aku ambil liontin itu. Liontin love itu sudah dalam keadaan
terbelah jadi dua bagian. Pada bagian depannya kosong. Tapi di bagian yang lain
aku melihat ada sebuah foto. Seorang ibu.
“Sudah Mas, kalungku sudah ketemu. Ini.
Tapi...”, Ina berteriak, tapi kemudian kembali mencari-cari.
Begitu melihat foto itu, sekujur tubuhku
lemas. Air mataku mulai berhamburan. Aku melangkah perlahan mendekati Ina.
“Ina, ini?”, kataku dengan suara
tersekat.Ina mengangguk.
Ina lalu semakin heran melihat sikapku.
Aku memang menatapnya tajam sambil mendekatinya.
“Ini foto siapa?”, tanyaku setelah amat
dekat dengannya.
“Itu ibuku..”.
“Beliau di mana sekarang?”, tanyaku
lagi. Ina lalu beralih tempat dan duduk di pinggiran trotoar. Mata-matanya
berkaca-kaca. Dan sebutir air mata pun jatuh di pipinya.
“Mas, ayo pulang..Kalau mas Idan tidak
mau pulang aku pulang sendiri aja. Silakan, Mas terus berhubungan dengan anak
jalanan itu”.
“Sebentar Deana. Tunggu. Ini saatnya
kamu tahu sebuah kebenaran yang selama ini aku sembunyikan tentang gadis ini”,
kataku pada Deana sambil tanganku mengambil kontak sepeda motor yang
dinaikinya. Dia kelihatan kian sewot.
Aku dekati Ina dengan langkah perlahan.
Karena memang tenagaku agak lemas. Urat-uratku seperti sedang mengendor. Dan
air mata ini semakin sulit aku bendung.
“Ibuku, beliau telah wafat. Lima belas
tahun yang lalu karena bencana alam. Dan sebelas tahunan aku akhirnya hidup
dengan Mak Karti...”, Ina mulai menjelaskan hidupnya dengan linang air mata.
Aku duduk bersimpuh di hadapannya.
“Nama lengkapmu Curtina kan?”, dia
mengangguk sambil memandangiku.
“Ina, dengarkan baik-baik. Foto yang ada
di liontin ini bukan hanya ibumu, tapi ibuku juga. Beliau ibu kita. Coba lihat
ini!”, kataku pada Ina. Kemudian aku ambil sebuah foto yang selama ini aku
simpan di dalam dompetku.
“Berarti..? Mas Ini....Mas Zaidan...!”,
“Benar Curt, aku ini kakakkmu..”.
Kami lalu saling pandang dengan linangan
air mata yang meluap luar biasa. Ina menabrakku, merangkulku erat-erat. Kami
saling berangkulan menumpahkan segala kerinduan yang bercampur keharuan karena
belasan tidak pernah bertemu.
“Mas Zaiiid...kemana sih selama ini..aku
mencari-carimu...Mas..”, ucap Ina dalam isaknya.
“Iya Curt, selama ini aku juga
mencarimu”, keluhku sambil memepererat rangkulanku padanya.
“Heeh..kalian ini apa-apaan sih. Kok
berpeluk-pelukan di depanku, di pinggir jalanan lagi..”, tiba-tiba Deana
menghardik. Aku melepaskan rangkulan pada Curtina, adik kandung yang selama ini
aku cari-cari. Deana terlihat diam bercampur heran begitu melihat kami berdua
berlinang air mata.
“Ada apa ini. Kalian kok malah
bertangis-tangisan..”, tanya Deana heran.
Aku beringsut dari tempatku sambil
menyeka air mata yang hampir rata di wajahku.
“Dea, kekasihku. Dugaanku tentang gadis
penjaja koran selama ini benar. Dia ternyata Curtina, adik kandungku.
Coba lihat ini”, kataku.
Aku kemudian menunjukkan foto yang ada
di liontin Curtina dan foto yang ada di dompetku padanya. Deana diam tanpa
kata. Dia mendekati Curtina dan memeluknya dengan erat. Entah perasaan apa yang
hendak ia curahkan pada adikku. Tapi, yang jelas aku sangat bersyukur, karena
orang yang aku cari selama bertahun-tahun kini telah hadir kembali dalam
kehidupanku.
ooOoo
SULASTRI
Hujan
baru saja reda. Dan sisa gerimisnya menghias malam yang baru saja bersandar.
Rasa dingin mulai mer-aba-raba kulit ariku. Kusruput lagi wedang kopi yang
sedari tadi ada di sebelahku, tinggal ampas. Niatku sekedar menghangatkan
badan. Tapi tetap saja dingin dan bulu-bulu kulitku pun mulai merinding.
Dari
balik gerimis, sepertinya ada sekelebatan tubuh perempuan. Tubuh yang tidak
asing, aku mengenalnya.
“Ah,
tidak mungkin,” gumamku. Lalu kubuka gulungan sarungku untuk kujadikan selimut
sekaligus melupakan apa yang baru saja terjadi.
Belum
selesai aku membuka gulungan sarungku, seorang perempuan telah duduk di
sampingku.Rambutnya terurai. Ada aroma bunga bertebaran menyertainya. Aku tidak
percaya dengan pandanganku. Mungkin ini hanya halusinasi.
“Kedinginan
ya Mas?”, sapanya. Suara itu sungguh aku kenal.
Di
bawah sorot lampu neon yang remang kuamati perempuan itu. Dia hanya merunduk.
“Kamu
Siapa?”, tanyaku penasaran.
“Aku
Mas”, jawabnya seraya menoleh ke arahku perlahan. Begitu melihat wajahnya, sungguh
aku kaget. Seluruh tubuhku gemetaran. Keringat dingin bercucuran. Jantungku pun
berdegup tak menentu. Lalu tubuhku lunglai seperti kekurangan oksigen.
ooOoo
Pemandangan
ini sungguh indah. Ada air bening yang mengalir. Bunga-bunga bermekaran di
bawah langit yang cerah. Hawanya pun sejuk membuatku betah untuk tinggal.
“Gimana
Mas, senang kan di sini?”, tanyanya membuat perhatianku beralih padanya.
Aku
diam dan membiarkannya menggamit tanganku. Aku terkesima melihat penampilannya saat ini. Ia kelihatan lebih
cantik dan lebih ceria dari biasanya. Rambutnya berurai, wajahnya seperti
bercahaya. Ia tampak sangat bahagia. Dan lebih mengherankanku lagi, selalu dari
tubuhnya bertebar aroma wangi.
“Mas,
kok diem sih”, sergahnya sambil menggerak-gerakkan tanganku.
“Oh..ya..iya..aku
betah di sini. Pemandangannya sangat indah”, jawabku setengah kaget.
“Ini
tempat apa?”, tanyaku
“Ah,
sudahlah mas. Yang penting dinikmati aja keindahannya.” Jawabnya.
Perlahan
ia menarik tanganku. Kami melangkah pelan menuju ke bawah pohon. Pohon yang
tidak aku kenal jenisnya. Pohon yang belum pernah aku lihat selama ini. Di
bawahnya memang rindang, nyaman untuk bersantai. Ada banyak buah yang
bergelantungan di ranting-rantingnya. Buah berwarna hijau kekuningan, masih
ranum. Sepertinya buah itu segar untuk dimakan. Jujur, aku tertarik dan ingin
memetiknya.
“Selama
ini aku di sini, Mas.”, katanya
“Lalu,
kenapa kamu bawa aku ke sini”, tanyaku kemudian.
“Kan
waktunya aku pulang, Mas. Ya..sekedar melihat keadaanmu dan anak-anak kita.
Tapi ketika nyampek rumah aku melihat Mas sendirin di depan rumah. Sepertinya
mas kesepian. Kupikir tidak ada salahnya jika Mas ku ajak ke sini. Biar tahu
tempat dan keadaanku saat ini”, jawabnya.
“Ini
tempat apa”.
“Aku
juga tidak tahu. Tapi aku senang di sini. Semua yang kuperlukan selalu ada. Dan
itupun, karena mas dan anak-anak rajin mengirimiku doa-doa”.
No comments:
Post a Comment