Monday, April 6, 2020

Liontin Curtina


LIONTIN CURTINA
Oleh Agus Salim

Di sepanjang perjalanan pulang ini, mulutku bungkam. Deana yang duduk di sampingku pun diam. Dari wajahnya terlihat, sepertinya dia masih kesal.
Kami sama-sama diam, menyimpan perasaan masing-masing. Ada kebimbangan dalam batinku untuk memulai pembicaraan. Untuk menyampaikan kebenaran yang membuatnya kesal.
“Maafkan aku Dea, aku belum mampu bercerita”, desahku dalam batin. Jujur, aku memang bukan tipe lelaki pencerita. Untuk keterampilan yang satu ini sepertinya aku memang tidak punya. Setiap kali akan bercerita, aku seakan kehabisan kata. Lebih-lebih dalam kondisi seperti ini. Perasaaan lawan bicaraku  kurang menyenangkan, lidahku semakin kelu. Perasaanku terasa tertekan.
Lalu aku berusaha mengembalikan konsentrasiku menyetir mobil yang aku kendarai.
“Tuh, lihat. Gadis idamanmu’, tiba-tiba Deana membuka mulut seraya telunjuknya menuding ke depan.
Aku tidak begitu menghiraukan ucapannya itu. Yah, walaupun mataku akhirnya juga mengikuti arah telunjuknya. Memang, di sekitar tiang bangjo,  ada perempuan muda yang berjalan sambil memondong tumpukan koran. Tangan kanannya melambai-lambaikan salah satu koran dagangannya sambil mendekati mobil-mobil yang mulai berhenti. Aku dengan segera menutup kaca pintu begitu dia mulai melangkah ke arahku. Tapi tetap saja dia mendekati mobil yang aku naiki.
“Mas, koran..korannya..Mas”, suaranya terdengar lirih. Aku menoleh sekilas. Biasa, lagi-lagi sasaran pandangku pada bagian leher dan dadanya. Lalu aku melempar senyum sambil mengangkat tangan kananku. Dia hanya mengangguk dan berlalu.
“ Lho, kok malah ditutup kacanya? Tidak beli Mas?”, ujar Dea.
“Ndak....tuh lampunya udah ijo..”, jawabku ringkas.
“Biasanya Mas Idan kan mesti  beli, katanya kasihan”, tambahnya
“Udahlah, tidak apa-apa. Aku lagi males”, jawabku lagi. Rupanya usahaku untuk mengalihkan perhatiannya gagal.
“Ya, udah. Tapi...”.
“Tapi apa?”, tanyaku penasaran
“Seperti biasa. Cara pandangmu itu lho. Rasanya kok lain. Mata Mas Idan mesti di daerah tertentunya”, kata Dea sambil melirikku.
“Ah, kamu ini ada-ada saja. Aku hanya melihat seperti ada sesuatu yang aneh pada diri gadis itu”, jawabku sekenanya.
“Lhaaa..ya kaaan”, kata Dea beringsut dari duduknya.
“Ah, sudahlah Dea, jangan dibahas lagi”, pintaku sambil terus menekan gas mobil untuk mempercepat lajunya.
Deana memang diam. Tapi sikap dan matanya menunjukkan ketidakpuasan. Sepertinya dia penasaran atau mungkin malah curiga.
“Mas Aidan menyukai gadis itu, ya?”, tanya Deana tiba-tiba.
Aku diam saja. Pura-pura tidak mendengar ucapannya. Aku terus memperhatikan jalanan yang ramai.
Benarkah aku menyukai gadis di pinggir jalan itu? Entahlah. Tapi aku memang memiliki perhatian khusus padanya. Setidaknya aku memang mengaguminya. Dia seorang wanita belia yang sedang berjibaku mempertahankan hidupnya sendiri. Berjuang di antara deru mesin dan asap knalpot serta beratap terik matahari. Seorang wanita muda yang memiliki pertahanan hidup yang tangguh. Sebuah sikap dan perilaku yang langka di jaman yang penuh dengan hiruk pikuk kemewahan ini. Apalagi gadis muda ini, selalu mengenakan baju seragam sekolahnya setiap kali berjualan koran. Tanpa ada rasa canggung dan malu, dia wira wiri di jalanan yang penuh dengan tatapan mata.
Gadis muda itu sepertinya menyadari bahwa hidup ini memang perjuangan. Tidak ada kebahagiaan hidup yang bisa dicapai tanpa perjuangan. Setiap orang memang harus memperjuangkan nasib hidupnya sendiri. Menggantungkan hidup pada orang lain merupakan sikap dan tindakan yang tercela. Malu? Harus ditinggalkan selama apa dilakukan tidak menyalahi tatanan agama dan sosial. Ah, kenapa aku kok malah seperti menjadi anggota kaum arifin ya?
Memang, setiap kali bertemu dengannya, perasaanku tidak seperti biasa. Lebih-lebih ketika aku melihat bagian antara leher dan dadanya, jantungku berdegup kian kencang. Seluruh tubuh seperti menggigil. Mataku lalu bergenang air, seakan ada sesuatu mendorong dari lubuk hati. Sesuatu yang mengharukan. Perasaan ini senantiasa aku sembunyikan dari Deana, yang suatu ketika pernah menanyaiku kenapa aku selalu membeli koran yang ditawarkan gadis muda itu. Padahal aku sudah berlangganan koran yang sama. Selalu aku jawab dengan kata “kasihan”. Biasanya Deana lalu diam.
“Mas...! Mas Aidan! Udah nyampek nih”, tiba-tiba Deana bersuara . Aku sedikit kaget. Untungnya aku tidak serta merta menginjak pedal rem. Sehingga aku bisa meminggirkan mobil dengan tenang.
“Tidak mampir dulu, Mas?”, tanyanya sambil membuka pintu mobil.
“Tidak Dea. Aku langsung pulang dulu ya?”, jawabku.
“Ok, Mas. O iya, besok Mas Idan tidak usah susul aku. Aku tadi sudah minta ijin untuk cuti dua hari ke bagian personalia”,
“Cuti? Memangnya kamu kenapa kok cuti”.
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin istirahat aja. Capek Mas kerja terus”.
“O gitu. Ya udah.  Selamat beristirahat ya. Besok sepulang kerja aku mampir ke sini”.
“Ya, Sayang.. Aku tunggu lho”.
Kubalas jawaban Dea itu dengan senyum yang kubuat semanis mungkin. Sungguh aku memang sangat bahagia setiap kali dia memanggilku “sayang”. Dea melangkah menuju gerbang pagar rumahnya. Aku lalu kembali menginjak pedal gas mobil untuk melanjutkan perjalanan menuju rumahku.

*****

Pagi di jalanan, seperti biasa, ramai. Suara mesin menderu berbaur dengan lengkingan klakson kendaraan. Udara perlahan mulai pengap dengan asap knalpot. Maka wajar jika para pengendara motor di samping helm juga memasangkan masker untuk menjaga hidung dan mulutnya agar tidak turut mengasup asap-asap yang menyesakkan itu. Ada juga sih sebagaian dari mereka yang dengan ugal-ugalan berkendera dengan kecepatan tinggi tanpa menggunakan helm ataupun masker. Mungkin merekalah orang-orang hebat yang berani menantang sakit bahkan maut. Orang-orang seperti mereka mungkin bisa dibilang termasuk orang yang egois. Mengedepankan enaknya sendiri tanpa mempertimbangkan keselamatan orang. Tapi, bagaimana mungkin mereka bisa memikir keselamatan orang lain, sementara untuk menjaga keselamatan dirinya saja enggan. Ah, sudahlah.
Tanpa terasa aku udah sampai di perempatan itu. Perlahan kuhentikan mobilku karena memang lampu stopan atau bangjo, kata orang Jawa, sedang merah. Heran, aku belum melihat gadis itu. Aku tolah-taleh ke segala arah. Belum juga melihat gadis itu.
“Koran....koran..”, terdengar suara penjaja koran dari arah belakang.
“Koran..!”, panggilku. Anak kecil mendekat ke arahku sambil menyodorkan koran yang aku minta. Sebenarnya membeli koran bukan tujuan utamaku.
“Dik, gadis yang biasanya jualan koran itu di mana ya? Kok tidak kelihatan, nggak jualan?”, tanyaku pada anak kecil itu.
“Yang biasanya pakai seragam?”, dia balik nanya. Aku mengangguk.
“Dia itu Ina, kakakku. Lagi ujian, Mas. Ujian semester katanya”.
“Oh, gitu. Berarti ndak jualan”.
“Jualan, nanti siang sampaai sore”.
“Lah, kamu nggak sekolah?”.
“Libur Mas, kan sekolahanku ditempati ujian”.
“Hmmm...Gitu. Sudah ya..makasih”. jawabku sambil tanganku mengusek-usek kepalanya. Anak itu hanya tersenyum.
“Makasih juga Mas..”.
Suara klakson menderu dari belakang. Rupanya lampu hijau telah menyala. Aku dengan segera menginjak perlahan pedal gas mobilku untuk melanjutkan perjalanan. Enath kenapa dibenakku selalu membayang gadis penjual koran itu.
“Ina, itu namanya”, gumamku sendiri.
Siapa sebenarnya gadis itu. Setiap kali bertemu, mengapa selalu menyisakan pikiran dan perasaan aneh padaku. Lebih-lebih jika aku melihat bagian antara leher dan dadanya itu. Kalung emas yang dikenakannya telah menyita perhatianku. Desian rantainya memiliki kesamaan. Apa mungkin? Apakah kalung Ina itu hanya kalung biasa. Hanya rantai, tanpa asessoris lain?

*****
Jam menunjukkan pukul 15.00 wib. Aku bersegera keluar dari kantor tempatku bekerja. Aku keluar dengan membawa satu tekad, bertemu gadis penjaja koran itu, Ina. Gadis yang ternyata masih bersekolah di balik kesibukannaya mencari nafkah di jalanan. Perkiraanku gadis itu berusia 18 tahunan. Berarti, kemungkinan dia sekaran sudah kelas duabelas, atau kelas tiga SMA. Secara fisik, parasnya vukup cantik. Dia sebenarnya berkulit cukup bersih berwarna kekuningan yang hangat, kuning langsat. Aku bisa melihatnya ketika jilbab yang dikenakannya tersibak angin. Aku mencuri pandangan. Bagian luar kulitnya memang agak gelap. Yah, mungkin karena terlalu sering terkena terik matahari.
Tak terasa aku sudah sampai di perempatan jalan, tempat Ina mangkal. Aku, lagi-lagi tolah-toleh mencari keberadaannya. Aku belum juga melihatnya sliweran di sekitar tiang stopan itu. Lalu mataku mengarah ke seberang jalan, di pojokan dekat warung kopi. Di sana aku melihat ada dua perempuan yang sedang berbincang. Aku dekatkan mobilku perlahan. Dialah Ina. Tapi perempuan yang satunya? Siapa dia? Setelah mematikan mesin mobilku di pinggir jalan, aku turun mendekati mereka.
“ Tapi Mbak. Aku ini sedang cari nafkah untuk ibu dan adikku’.
“Tapi tidak di sini dong jualannya”, kata perempuan berhelm itu
“Memangnya kenapa Mbak, kok mbak ini sewot”, jawab Ina.
“Kamu jualan di sini untuk menggoda Mas Idan kan?”, kata perempuan itu. Aku kaget juga ketika perempuan itu menyebut namaku. Setelah dia buka helam baru aku tahu kalau dia adalah Deana. Tapi untuk apa dia berpenampilan tomboy dan berhelm tropong seperti itu.
“Idan siapa?”.
“Pacarku, dia yang selalu beli koran ke kamu di sini”.
“Oo..honda jazz hitam itu”.
“Ya..! Itu...”.
Maaf, Mbak. Aku tidak punya maksud apapun sama dia. Aku hanya menjual koran-koranku. Lagian, namanya saja ku baru dengar. Memangnya aku harus pindah, gitu?”
“Ya laah..cari tempat lain..!”.
“Mbak..mbak.. kamu ini aneh. Kalau pun aku pindah tempat, bisa saja aku tetap ketemu dia. Namanya juga jalan..dan mobil jalannya lewat jalan kan?”
“Kamu ini! Berdaliih...!”, sentak Deana sambil mengangkat tangan kanannya siap untuk menmpar Ina. Tapi untungnya aku sudah agak dekat sehingga sempat menangkap tangannya.  Sekalipun tangan Deana aku pegang, sepertinya tetap saja ina terjungkal jatuh. Rupanya ketika akan menghindari tamparan Dea, kakinya tersandung pembatas jalan. Dia lalu jatuh terjerembab.
“Dea, apa-apan sih. Lihat tuh, jatuh kan...”, bentakku sambil memegang tangannya. Entah kenapa tiba-tiba aku melepaskan tangan Deana dengan agak keras, sampai-sampai tubuhnya agak berputar.
“Maaas...!”, teriak Dea.
Aku tidak mempedulikan teriakan Deana. Aku malah memilih mendekati Ina yang sedang berusaha bangkit. Koran-kora dan majalahnya berhamburan karena terpental.
“Ina, kamu tidak apa-apa kan?’, tanyaku.
Ina tidak langsung menjawab. Dia melihatku dengan ekspresi heran.
“Tidak. Tidak apa-apa kok mas. Kok tahu namaku?”, jawabnya
“Sudahlah, ayo aku bantu mengambil barang-barangmu”.
“Ya, kaan. Mas sudah kenal sama perempuan ini”, tiba-tiba Dea bersuara keras.
Lagi-lagi, tidak aku hiraukan. Aku sibukkan diri mengambili koran dan majalah milik Ina yang berantakan.
“Loh, kalungku di mana ya...?”, Ina berdiri sambil mencari-cari sesuatu. Kalung? Aku hentikan sejenak kegiatanku. Mataku lalu ikut mencar-cari kalung yang dimaksudkan Ina. Dan, persis di sebelah ban sepeda Deana, aku melihat sesuatu yang membuat aku agak terhentak. Sebuah liontin. Aku ambil liontin itu. Liontin love itu sudah dalam keadaan terbelah jadi dua bagian. Pada bagian depannya kosong. Tapi di bagian yang lain aku melihat ada sebuah foto. Seorang ibu.
“Sudah Mas, kalungku sudah ketemu. Ini. Tapi...”, Ina berteriak, tapi kemudian kembali mencari-cari.
Begitu melihat foto itu, sekujur tubuhku lemas. Air mataku mulai berhamburan. Aku melangkah perlahan mendekati Ina.
“Ina, ini?”, kataku dengan suara tersekat.Ina mengangguk.
Ina lalu semakin heran melihat sikapku. Aku memang menatapnya tajam sambil mendekatinya.
“Ini foto siapa?”, tanyaku setelah amat dekat dengannya.
“Itu ibuku..”.
“Beliau di mana sekarang?”, tanyaku lagi. Ina lalu beralih tempat dan duduk di pinggiran trotoar. Mata-matanya berkaca-kaca. Dan sebutir air mata pun jatuh di pipinya.
“Mas, ayo pulang..Kalau mas Idan tidak mau pulang aku pulang sendiri aja. Silakan, Mas terus berhubungan dengan anak jalanan itu”.
“Sebentar Deana. Tunggu. Ini saatnya kamu tahu sebuah kebenaran yang selama ini aku sembunyikan tentang gadis ini”, kataku pada Deana sambil tanganku mengambil kontak sepeda motor yang dinaikinya. Dia kelihatan kian sewot.
Aku dekati Ina dengan langkah perlahan. Karena memang tenagaku agak lemas. Urat-uratku seperti sedang mengendor. Dan air mata ini semakin sulit aku bendung.
“Ibuku, beliau telah wafat. Lima belas tahun yang lalu karena bencana alam. Dan sebelas tahunan aku akhirnya hidup dengan Mak Karti...”, Ina mulai menjelaskan hidupnya dengan linang air mata. Aku duduk bersimpuh di hadapannya.
“Nama lengkapmu Curtina kan?”, dia mengangguk sambil memandangiku.
“Ina, dengarkan baik-baik. Foto yang ada di liontin ini bukan hanya ibumu, tapi ibuku juga. Beliau ibu kita. Coba lihat ini!”, kataku pada Ina. Kemudian aku ambil sebuah foto yang selama ini aku simpan di dalam dompetku.
“Berarti..? Mas Ini....Mas Zaidan...!”,
“Benar Curt, aku ini kakakkmu..”.
Kami lalu saling pandang dengan linangan air mata yang meluap luar biasa. Ina menabrakku, merangkulku erat-erat. Kami saling berangkulan menumpahkan segala kerinduan yang bercampur keharuan karena belasan tidak pernah bertemu.
“Mas Zaiiid...kemana sih selama ini..aku mencari-carimu...Mas..”, ucap Ina dalam isaknya.
“Iya Curt, selama ini aku juga mencarimu”, keluhku sambil memepererat rangkulanku padanya.
“Heeh..kalian ini apa-apaan sih. Kok berpeluk-pelukan di depanku, di pinggir jalanan lagi..”, tiba-tiba Deana menghardik. Aku melepaskan rangkulan pada Curtina, adik kandung yang selama ini aku cari-cari. Deana terlihat diam bercampur heran begitu melihat kami berdua berlinang air mata.
“Ada apa ini. Kalian kok malah bertangis-tangisan..”, tanya Deana heran.
Aku beringsut dari tempatku sambil menyeka air mata yang hampir rata di wajahku.
“Dea, kekasihku. Dugaanku tentang gadis penjaja koran selama ini benar. Dia ternyata Curtina, adik kandungku. Coba lihat ini”, kataku.
Aku kemudian menunjukkan foto yang ada di liontin Curtina dan foto yang ada di dompetku padanya. Deana diam tanpa kata. Dia mendekati Curtina dan memeluknya dengan erat. Entah perasaan apa yang hendak ia curahkan pada adikku. Tapi, yang jelas aku sangat bersyukur, karena orang yang aku cari selama bertahun-tahun kini telah hadir kembali dalam kehidupanku.

ooOoo



































SULASTRI

Hujan baru saja reda. Dan sisa gerimisnya menghias malam yang baru saja bersandar. Rasa dingin mulai mer-aba-raba kulit ariku. Kusruput lagi wedang kopi yang sedari tadi ada di sebelahku, tinggal ampas. Niatku sekedar menghangatkan badan. Tapi tetap saja dingin dan bulu-bulu kulitku pun mulai merinding.
Dari balik gerimis, sepertinya ada sekelebatan tubuh perempuan. Tubuh yang tidak asing, aku mengenalnya.
“Ah, tidak mungkin,” gumamku. Lalu kubuka gulungan sarungku untuk kujadikan selimut sekaligus melupakan apa yang baru saja terjadi.
Belum selesai aku membuka gulungan sarungku, seorang perempuan telah duduk di sampingku.Rambutnya terurai. Ada aroma bunga bertebaran menyertainya. Aku tidak percaya dengan pandanganku. Mungkin ini hanya halusinasi.
“Kedinginan ya Mas?”, sapanya. Suara itu sungguh aku kenal.
Di bawah sorot lampu neon yang remang kuamati perempuan itu. Dia hanya merunduk.
“Kamu Siapa?”, tanyaku penasaran.
“Aku Mas”, jawabnya seraya menoleh ke arahku perlahan. Begitu melihat wajahnya, sungguh aku kaget. Seluruh tubuhku gemetaran. Keringat dingin bercucuran. Jantungku pun berdegup tak menentu. Lalu tubuhku lunglai seperti kekurangan oksigen.
ooOoo

Pemandangan ini sungguh indah. Ada air bening yang mengalir. Bunga-bunga bermekaran di bawah langit yang cerah. Hawanya pun sejuk membuatku betah untuk tinggal.
“Gimana Mas, senang kan di sini?”, tanyanya membuat perhatianku beralih padanya.
Aku diam dan membiarkannya menggamit tanganku. Aku terkesima melihat  penampilannya saat ini. Ia kelihatan lebih cantik dan lebih ceria dari biasanya. Rambutnya berurai, wajahnya seperti bercahaya. Ia tampak sangat bahagia. Dan lebih mengherankanku lagi, selalu dari tubuhnya bertebar aroma wangi.
“Mas, kok diem sih”, sergahnya sambil menggerak-gerakkan tanganku.
“Oh..ya..iya..aku betah di sini. Pemandangannya sangat indah”, jawabku setengah kaget.
“Ini tempat apa?”, tanyaku
“Ah, sudahlah mas. Yang penting dinikmati aja keindahannya.” Jawabnya.
Perlahan ia menarik tanganku. Kami melangkah pelan menuju ke bawah pohon. Pohon yang tidak aku kenal jenisnya. Pohon yang belum pernah aku lihat selama ini. Di bawahnya memang rindang, nyaman untuk bersantai. Ada banyak buah yang bergelantungan di ranting-rantingnya. Buah berwarna hijau kekuningan, masih ranum. Sepertinya buah itu segar untuk dimakan. Jujur, aku tertarik dan ingin memetiknya.
“Selama ini aku di sini, Mas.”, katanya
“Lalu, kenapa kamu bawa aku ke sini”, tanyaku kemudian.
“Kan waktunya aku pulang, Mas. Ya..sekedar melihat keadaanmu dan anak-anak kita. Tapi ketika nyampek rumah aku melihat Mas sendirin di depan rumah. Sepertinya mas kesepian. Kupikir tidak ada salahnya jika Mas ku ajak ke sini. Biar tahu tempat dan keadaanku saat ini”, jawabnya.
“Ini tempat apa”.
“Aku juga tidak tahu. Tapi aku senang di sini. Semua yang kuperlukan selalu ada. Dan itupun, karena mas dan anak-anak rajin mengirimiku doa-doa”.


No comments: