LAMPU YANG KEMBALI BERSINAR
Oleh Agus Salim
Oleh Agus Salim
Mataku tak
hentinya mengusap hamparan plafon itu. Setiap kali melihat fitting lampu, kuamati dengan seksama. Semuanya masih dalam kondisi
baik dan lengkap. Kemudian kuhampiri saklar yang menempel ditembok sisi
selatan. Clak..clak! Lampu-lampu itu pun menyala kecuali lampu bagian depan.
Kuulangi mengotak-atik saklar.
Tetap. Dua lampu di plafon bagian depan itu padam Mereka-reka aku dalam pikir. Mungkin filamen wolfram atau komponen lain pada lampu itu rusak, atau mungkin juga ada kabel yang terputus. Tapi kok bisa, dua lampu rusak bersamaan.
Tetap. Dua lampu di plafon bagian depan itu padam Mereka-reka aku dalam pikir. Mungkin filamen wolfram atau komponen lain pada lampu itu rusak, atau mungkin juga ada kabel yang terputus. Tapi kok bisa, dua lampu rusak bersamaan.
Aku
beranjak dari tempatku berdiri. Coba hendak melihat lampu-lampu lain di kamar
mandi. Khawatir kalau-kalau lampu-lampu itu pun ada yang tidak menyala.
“Cari apa, Pak?” tiba-tiba
Kang Seger ada di belakangku.
“ Oh, kang Seger. Kaget saya.
Wa’alaikumussalam Kang,” jawabku spontan. Kang Seger tersenyum.
“Assalamu’alaikum Pak. Ha...ha...ha...,”
timpal Kang Seger memancing tawaku.
“Ha...ha...ha..., Kang Seger ini bisa
aja. Itu lho Kang, barangkali Kang Seger tahu, lampu bagian depan plafon itu kok tidak nyala?”
“Itu tah pak. Hemmm..., kemarin saya disuruh
pak ketua untuk mematikan lampu-lampu itu. Tapi saya tidak mau. Katanya sih
untuk ngirit biaya listrik. Yang nyumbang katanya merasa keberatan bayarnya.”
“Ooo.. gitu. Kalau Kang Seger tidak mau,
kok lampunya padam? Mungkin rusak, Kang. Perlu diganti,”
“Ah,
Bapak ini. Seperti tidak tahu kebiasaan Pak Ketua. Lagian, yang perlu diganti
itu bukan lampunya, tapi ketuanya.”
“Jangan
gitu lah Kang. Mosok, gara-gara lampu aja kok harus ganti ketua segala,”
jawabku.
“Masalahnya bukan hanya itu kan, Pak.
Pak Ketua ini selalu membuat orang lain kesal. Hasil kerja orang lain tidak ada
yang cocok buat dia. Kalau nyuruh orang, harus seperti apa yang dia mau,
padahal kemauannya itu sering tidak masuk akal,” lanjut lelaki berkulit negroid itu, seakan tak peduli kata-kataku.
Mendengar ucapan Kang Seger, aku seperti
tidak bisa berucap apa-apa lagi. Ada sesutu yang kurang nyaman. Dari gelagat
dan warna suaranya, aku rasa Kang Seger sedang kesal. Kesal terhadap sikap Pak
Ketua yang selama ini mungkin dianggap selalu arogan dan memaksakan kehendak.
“Saya sudah ngomong dengan pak Polo
tentang hal ini, Pak. Sebentar lagi Ustad Kholik, Aba Anang, Cak Sumar akan ke
sini. Sholat berjemaah sekaligus mengantarkan undangan dari pak Polo.” Tambah
Kang Seger sambil melangkah menuju ruang utama masjid.
Ngomong dengan pak Polo? Undangan dari
pak Polo? Pertanyaan ini mengusik pikiranku. Apakah kekesalan Kang Seger juga
kekesalan para warga? Perasaan yang sama sebenarnya pernah aku alami. Tapi
perasaan itu segera aku tepis dan aku buang jauh-jauh. Pak Ketua bersikap
seperti itu, mungkin karena dia ingin hal terbaik untuk semua warga dan tempat
ibadah ini. Di sisi lain aku yakin, apa yang dia lakukan sudah melalui
pemikiran dan pertimbangan yang matang. Sebagai mantan guru agama, pasti dia
tahu dengan apa yang dia lakukan. Tapi bagaimana dengan sikap para warga.
Rupanya waktu sholat maghrib telah tiba.
Suara khas Kang Seger telah menggema mengu-mandangkan adzan. Para jemaah juga
sudah mulai berdatangan termasuk Pak Ketua. Setelah menyalamiku, dia berdiri di
belakang Kang Seger yang sedang adzan. Setelah Kang Seger adzan, kami
melaksanakan sholat sunnah dua rakaat. Di sebelahku rupanya ada Ustad Kholik,
Aba Anang, dan Cak Sumar. Selang beberapa menit, Kang Seger berdiri untuk
iqomah. Pak Ketua kemudian maju sebagai imam.
“Pak..!” aba Anang memanggilku sambil
berjalan ke arah kamar mandi. Rupanya ada sesuatu yang ingin disampikan. Aku
pun mengikutinya dari belakang.
“Begini, Pak. Kemarin saya dan beberapa
warga menghadap pak Polo Membicarakan pe-ngurus masjid ini.”
“Lho, memangnya ada apa dengan pengurus
masjid ini Ba...?” tanyaku heran.
“Saya juga kurang paham. Tapi yang jelas
para warga menghendaki pergantian ketua.”
“Lho, kok sampek segitunya sih, Ba. Apa
salah beliau. Bukankah sejauh ini, beliaulah yang menjaga kesejahteraan masjid
ini. Selain itu, beliau juga yang telah banyak memberikan pemahaman tentang
agama kepada warga? Jadi selain ketua takmir, beliau sekaligus juga sebagai
guru bagi warga kampung Gebangjati ini, kan Ba?” aku mencoba mempengaruhi Aba
Anang supaya bisa membatalkan acara.
“Yang Bapak katakan itu memang benar.
Tapi bagaimana lagi, warga menghedaki pak ketua diganti. Alasan mereka, pak
ketua terlalu sering bersikap arogan dan mau kuasa sendiri. Saya tidak bisa
berbuat apa-apa lagi selain mengikuti kemauan warga.. Tapi sudahlah, Pak. Ini
undangan Bapak, mari kita ke depan atau langsung ke rumah pak Polo.” rupanya
Aba Anang tidak mau berbicara panjang lebar lagi. Dia mulai membalikkan badan
perlahan.
“Pak
Ketua juga diundang?” tanyaku sambil membuka kertas undangan.
“Ya,
undangannya diberikan Ustad Kholik, di depan.” jawab Aba Anang sambil bergegas
melangkah meninggalkanku.
Di luar masjid aku lihat sudah ada
beberapa orang berkumpul. Aba Anang sudah bergabung dengan Ustad Kholik, Cak
Sumar dan beberapa orang warga kampung lainnya. Sementara di serambi masjid ada
pak ketua sedang membaca isi surat undangan yang baru diterimanya.
“Assalamualaikum,” sapaku
“Walaikumusalam. Ini gimana sih Pak
Guru, kok tahu-tahu ada undangan seperti ini?” jawab pak ketua sekaligus
mengajukan pertanyaan yang aku sendiri kesulitan menjawabnya. Laki-laki
berbadan dan berperut itu kemudian duduk di sebelah tiang teras.
“Kalau ada apa-apa tentang masjid ini,
harusnya pak Polo itu memberi tahu saya dulu, saya ini kan ketua takmir di
majid ini. Kalau seperti ini caranya, saya tidak akan mendatangi undangan ini,
Pak Guru” gumamnya sebelum aku sempat memjawab pertanyaannya.
“Tapi, Pak. Undangan ini sudah kita
terima. Kita harus datang, apalagi ini atas desakan warga.” jawabku merayu pak
ketua agar mau memenuhi undangan pak polo.
“Masalahnya, saya sebagai ketua takmir
merasa tidak ada masalah apapun, demikian juga dengan pengurus yang lain. Tapi
kok terus ada musyawarah tentang kepengurusan ini, gimana?”
“Makanya, kita harus datang biar tahu
duduk persoalannya. Siapa tahu, di sana nanti kita menemukan jalan terbaik.
Bukankah kita harus husnudzon,
Mari kita berangkat, Pak.”
Pak Ketua hanya diam mendengarkan
paerkatannku. Tapi aku tetap tidak tahu apa yang dipikirkannya. Aku kemudian
berlalu meningglaknnya.
Aku jalan kaki ke arah rumah pak Polo.
Aku telusuri sinar remang di jalanan kampung itu. Pikiranku juga remang dalam
gumam. Aneh. Kenapa pak Ketua harus diganti? Bukankah selama ini dia telah
berbuat banyak untuk kemajuan kampung ini? Dia paham tentang agama, bahkan yang
paling paham di kampung ini. Tapi kenapa mereka hendak menggantinya. Lalu siapa
yang akan menggantikan kedudukanya sebagai ketua. Padahal menjadi ketua takmir
masjid bukanlah perkara mudah. Sehingga untuk memilih pengganti pak Ketua
tentunya juga bukan perkara yang mudah.
Tanpa terasa aku sudah sampai di depan
rumah Pak Polo. Di ruang tamu sudah banyak yang hadir. Semua ketua RT dan
beberapa tokoh masyarakat sepertinya juga sudah hadir. Setelah melepas sandal
yang aku pakai, aku memasuki ruang tamu rumah pak Polo. Seusai mengucap salam
aku menyalami hadirin satu persatu sekaligus mencari tempat kosong untuk aku
duduk. Akhirnya aku mendapat tempat persis di sebalah pintu masuk ke ruang
utama rumah itu. Aku duduk menghadap ke selatan. Dari tempat itu, aku bisa
melihat ke luar sampai ke pinggir jalan. Syukurlah, rupanya pak Ketua pun
berkenan hadir memenuhi undangan Pak Polo. Ia mengendarai motor honda Vario warna merah. Setelah
menyelami beberapa orang, dia menuju ke arahku. Seperti biasa, dia selalu
berusaha berdekatan denganku. Dia duduk di sebelah kiriku.
Sekilas aku lihat mereka yang hadir
sedikit agak tegang. Hanya sedikit yang sempat berkelekar sekedar mengisi
kekosongan waktu. Pertemuan malam ini tidak seperti biasanya, makanan dan
minuman yang disajikan Pak Polo masih utuh. Rupanya mereka yang hadir masih
enggan menyentuhnya. Padahal makanan yang ditaruh di tengah pertemuan itu
beraneka ragam, ada buah dan gorengan. Semangka, rambutan, jeruk, pisang
goreng, ote-ote, dan kerupuk opel lengkap dengan solet-nya. Makanan-makanna itu diapit oleh dua teko berisi kopi hangat.
Keduanya disandingi dengan setalam gelas berukuran sedang. Sebenarnya aku ingin
sekali segara meneguk kopi hangat itu. Tapi selera ini aku tahan, nunggu acara
pertemuan ini usai.
“Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,” upanya Cak Sumar hendak memulai acara pertemuan.
“Walaikumussalam,” jawab hadirin
serentak.
Cak meneruskan kalaimat-kalimat
pengantarnya dengan encer. Mulai pembukaan, pangantar awal sampai menuju tema utama
pertemuan malam ini. Aku mendengarkannya dengan cermat. Dia makin mahir menjadi
pembawa acara pertemuan sehingga peserta bagai terhipnotis mendengar
dengan hikmat dan seksama. Tidak terlalu
banyak sambutan pada acara ini, sehingga tidak terlalu banyak basa-basi. Acara
demi acar meluncur cepat hingga pada acara poko, musyawarah pergantian ketua.
“Nah, sekarang silakan Pak Polo
menyampaikan pendapat-pendapatnya sehubungan dengan acara pertemuan ini,” kata
Cak Sumar.
“Baiklah, Assalamu’alaikum warahmatullah
wabarakatuh,” pak Polo memulai berbicara.
“Sebelumnya saya mohon maaf, sebeanranya
semula saya tidak tahu persoalan ini.
Tapi beberaapa warga datang menghadap saya, menyampaikan keluhan.perihal
pergantian ketua. Lah, ini kebetulan para ketua RT juga hadir. Saya nanya, apa
benar warga menghendaki pergantian ketua?”
“Yaaaa..benar,” jawab hadirin serentak.
“Alasannya apa, Njenengan semua
menghendaki pak ketua diganti? Bukankah beliau ini, sudah punya banyak jasa di
kampung kita,” lanjut pak Polo.
“Benar Pak Polo, tapi kelakuannya itu
lho, “ Pak Adnan ketua RT 20 menjawab singkat.
“Dia sering bersikap arogan, berbuat
semaunya, memerintah orang seenaknya, karenanya dia perlu diganti” lanjutnya dengan
kalimat yang lebih tajam.
Peserta musyawarah yang lain kulihat
memberikan reaksi yang berbeda. Ada yang manggut-manggut, ada yang
berbisik-bisik. Ada bergumam lirih, “Benar.” Sementara Pak Ketua kelihatan
gelisah. Kelihatan mulai tidak sabar untuk segera berunjuk kata. Tapi segera
aku usap pahanya, sebagai tanda agar dia bersabar. Usahaku untuk membuatnya
diam rupanya gagal.
“Lho, Maksud Pak Adnan, saya arogan
gimana?” pak Ketua mulai bicara dengan suara yang berat.
“Maaf pak ya, ini keluhan yang saya
terima dari warga saya, RT 20. Coba Ger jelaskan lagi di forum ini keluhanmu
waktu di rumah saya kemarin, biar jelas,” jawab Pak Adnan sambil meng-alihakn
pandangan ke arah Kang Seger yang sedang duduk di pojok sebelah barat.
“Ya, Pak. Saya memang mengeluh ke pak
Adnan. Selaku ketua RT saya tentang sikap pak Ketua terhadap saya. Waktu itu
pak Ketua menyuruh saya mematikan lampu yang ada di tempat wudlu. Tapi saya
tidak mau. Karena kalau dimatikan lokasi tempat wudlu kurang terang. Tapi Pak
Ketua malah mentang-mentang,” Kang Seger menjelaskan duduk perkaranya. Peserta
musyawarah yang lain diam, memperhatikan penjelasan kang Seger itu.
“Lho, Ger kamu tidak mau, saya ini ketua
di masjid ini. Saya punya hak untuk mengatur masjid ini. Kamu harus mengikuti
apa yang saya kehendaki. Itu yang dia katakan waktu itu,” tukas kang Seger
menirukan ucapan Pak Ketua. Pak Ketua menarik nafas dalam mendengar penjelasan
Kang Seger itu
“Wah! itu nggak bener, yang dikatakannya
itu fitnah,” jawab pak Ketua bereaksi.
“Sudahlah Pak. Tidak usah mengelak. Yang
merasakan sikap arogan sampean itu bukan hanya Seger. Dan yang mengeluhkan
sikap sampean itu ya bukan hanya Seger. Malah hampir semua orang yang bermaksud
membantu sampean di masjid itu juga sudah merasakan, “ tiba-tiba pak Marto
nyerobot pembicaraan.
“Dan kalau orang-orang itu disuruh
ngomong, saya rasa kok kurang etis. Makanya mari kita fokus pada tujuan
pertemuan ini. Mengganti ketua Takmir Masjid. Ini yang harus dibicarakan,”
lanjutnya pula.
“Setujuuu..,” jawab hadirin serentak.
Suasana pertemuan ini sepertinya memang
kian panas. Apa yang dikatakan Pak Marto itu juga ada benarnya. Karena jika keadaan
seperti ini dibiarkan maka pertemuan ini akan menjadi ajang hujat menghujat. sehingga
akan sulit menemukan solusi. Aku melirik dan memberi kode pak Polo agar
menetralisr keadaan.
“Bapak dan saudara sekalian. Apa yang
dikatakan Pak Marto itu tidak salah. Mari kita fokus pada tujuan pertemuan ini.
Tapi sebelum menentukan perlu tidaknya Pak Ketua diganti, saya rasa perlu
memberikan kesempatan pada pak Ketua untuk mengklarifikasi,” ungkap Pak Polo
kepada semua yang hadir. Mereka semua kemudian diam walaupun ada sebagian yang
menggerutu.
“Mari kita dengarkan penjelasan Pak
Ketua. Silakan Pak!” lanjut pak Polo.
Kulihat pak Ketua lagi-lagi menarik
nafas. Dia kemudian sedikit bergeser agak ke depan seakan mengisyaratkan bahwa
dia siap melakukan klarifikasi.
“Baiklah. Terima kasih Pak Polo. Bapak-bapak
dan saudara-saudara sekalian. Terus terang saya merasa tidak nyaman dalam
pertemuan ini. Lebih-lebih setelah mendengar penjelasan-penjelasan tentang
sikap saya. Sungguh saya tidak bermaksud seperti itu. Apa yang saya lakukan
selama ini semata-mata karena saya ingin yang terbaik untuk masjid kita
dan untuk warga kampung Gebangjati ini. Tapi, jika sikap saya itu
membuat tidak nyaman Bapak-bapak dan Saudara-saudara
sekalian, saya minta maaf. Sekali lagi, maaf,”
“Huuu..., udah gak usah basa basi. Ganti
ya ganti,” kata beberapa orang hadirin mengeluarkan kekesalannya.
“Tapi soal pergantian ketua takmir
masjid, bukannya saya tidak mau, tapi jujur saja, saya belum bisa, saya belum
ikhlas. Karena sampai saat ini, saya belum menemukan figur yang pas untuk
nangani masjid kita,” lanjut pak Ketua seakan tanpa peduli dengan gumaman di
sekitarnya.
“Kalau memang saya akan diganti, coba tunjukkan
siapa penggantinya?” tanya Pak Ketua.
Mendengar pertanyaan seperti itu,
hadirin sempat terdiam. Lalu mereka saling pandang satu sama lain Seakan mereka
baru menyadari bahwa sebelum pertemuan
mereka tidak sempat memi-kirkan siapa orang yang pantas menggantikan pak Ketua sebagai
ketua takmir.. Sebagian ada melirikku, sebagian ada yang menoleh ke Aba Anang. Tiba-tiba
Cak Bambang mengangkat tangan pertanda ada sesuatu yang akan disampaikan.
“Kalau dikatakan tidak ada figur yang
pas, menurut saya itu salah. Saya sangat setuju kalau Aba Anang atau pak guru
Sukis dicalonkan menjadi ketua. Saya yakin, beliau-beliau itu mampu menjadi
ketua,” kata lelaki yang bertugas di bagian kebersihan masjid itu.
“Ya, setuju,” timpal Pak Adnan, yang
diikuti peserta pertemuan yang lain. Aku dan Aba Anang seketika saling pandang.
“Bagaimana Aba Anang, juga Pak Sukis,
setujukah?” tanya pak Polo.
“Jangan sayalah, nggak sanggup. Saya
bagian bantu-bantu aja. Saya setuju kalau pak Sukis yang menggantikan Pak
Ketua,” jawab Aba Anang tegas sambil menoleh ke arahku.
“Gimana Pak?” tanya Pak Polo pula.
Aku menggeser sambil membenahi posisi
dudukku. Entah kenapa kemudian aku menarik nafas panjang. Ini kesempatanku
untuk berbicara, pikirku. Walaupun, sebenarnya aku merasa keberatan menerima
tugas dan tanggung jawab sebagai ketua.
“Baiklah. Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,” aku langsung uluk salam sembari mengalihkan
perhatian peserta pertemuan.
“Waalaikumussalam.”
“Bapak dan Saudara sekalian, ijinkan
saya menyampaikan pendapat sehubungan dengan masalah pergantian ketua ini,”
lanjutku. Mereka semua mengalihkan pandangan ke arahku seakan mereka siap
mendengarkan apa yang akan aku sampaikan
“Secara pribadi saya setuju kalau ketua
takmir Masjid kita diganti. Sepertinya memang sudah waktunya regenerasi. Tapi perlu kita ingat bahwa
menjadi ketua takmir masjid itu bukan pekerjaan mudah. Yang diurusi kan bukan
hanya bangunan, ataupun lampu misalnya lebih-lebih pertang-gungjawabnnya kan
dunia akherat.,“ aku menghentikan bicaraku sejenak. Kuperhatikan, semuanya diam
merunduk. Aba Anang dan Ustad Kholik terlihat manggut-manggut, entah apa yang
sedang mereka pikirkan.
“Karenanya, harap maklum kalau Pak Ketua
kemudian bersikap yang mungkin dirasa kurang nyaman. Kemudian kita maklumi juga
kalau pak Ketua menyatakan belum bisa diganti untuk sementara ini dengan
alasannya tadi. Soal kepercayaan Bapak-bapak dan Saudara-saudara yang hendak
mencalonkan saya sebagai ketua, saya ucapkan terima kasih sekaligus saya minta
maaf. Saya sama seperti Aba Anang. Saya merasa kurang layak untuk menduduki
jabatan mulia ini. Nah, sekarang begini saja. Ini kalau saya boleh usul,”
lanjutku.
“Ya silakan, Pak,” jawab pak Polo dan
ustad Kholik bersamaan.
“Bagaimana kalau Pak Suud ini kita beri
kesempatan untuk tetap menjadi ketua? Sekalian biar beliau mencari calon
penggantinya. Ya, kita bantu juga tentunya.” tukasku singkat. Pak Ketua sekilas
menoleh ke arahku.
Suasana pertemuan hening sejenak.
Lagi-lagi mereka saling pandang satu sama lain. Pada wajah-wajah mereka
tersirat rasa kecewa.Tapi untunglah suasana kembali mencair ketika Ustad Kholik
menyampaikan pendapatnya.
“Bapak-bapak, saya kira usulan Pak Sukis
ini ada baiknya. Sementara Pak Ketua tetap saja pada posisinya. Dengan syarat,
Pak Ketua mau mengubah sikap atau perilakunya,” katanya dengan kalem
“Pak Ustad, saya setuju pendapat ini,”
kata Pak Adnan.
“Sebenarnya, saya masih percaya kok Pak
Suud tetap jadi ketua. Kami para warga sebanarnya menyadari kalau jasa Pak Suud
sudah banyak untuk kampung ini. Kami juga masih butuh ceramah-cearmahnya. Tapi
kalau sepak terjangnya masih tetap seperti itu, ya untuk apa?” lanjutnya.
“Ya benar,” kata Kang Seger. Sementara
peserta yang lain mulai terlihat seperti menjadi penonton bulu tangkis yang
hanya menolah-nolehkan kepala.
“Saya butuh ketua yang tidak hanya
pinter ngomong, tapi juga bisa mengerti dan menghargai orang lain. Setidaknya
sikap, perkataan, dan perilakunya itu bisa dicontoh. Bukan begitu Bapak-bapak?”
lanjutnya seraya mengajak perserta pertemuan untuk menyepakati pendapatnya itu.
“Ya, betul,” kata sebagian orang
serentak.
“Sekarang, terserah Pak Ketua. Mau
berubah atau tidak?” ucap kang Seger lagi seraya melirik Pak Ketua yang sedari
tadi hanya diam dan merunduk.
“Pak Polo,” kata Pak Ketua tiba-tiba
sambil mengacungkan tangan. Pak Polo menyilakannya dengan isyarat.
“Baiklah Bapak-bapak. Ijinkan saya untuk
menyampaikan tanggapan terhadap dan pandangan yang disampaikan tadi. Sekali
lagi saya minta maaf. Barangkali apa yang saya lakukan selama ini memang kurang
berkenan. Terus terang, saya baru sadar, saya sebagai ketua takmir sepertinya
telah termakan oleh dogma dan prinsip saya sendiri. Sehingga saya kemudian
bersikap ego atau mau menang sendiri. Karenaya sekali lagi saya minta maaf. Lalu,
masalah pergantian ketua, bukannya saya tidak mau diganti, tapi selama ini saya
memang merasa belum menemukan figur yang tepat. Tapi kalau Bapak-bapak memang
menghendaki pergantian itu dilakukan sesegera mungkin, silakan.Saya sungguh
tidak berkeberatan. Karena seperti yang disampaikan pak guru Sukis tadi, memang
sudah saatnya regenerasi. Soal siapa
yang akan jadi, nanti kita bicarakan bersama lagi dan teknisnya sepenuhnya saya
serahkan pada Pak Polo,” para hadirin diam mendengar penjelasan Pak Suud yang
panjang lebar itu. Suasana pertemuan ini benar-benar hening.
Jujur, aku merasa agak lega melihat
tensi pada pertemuan ini mulai menurun. Aku baru menyadari, kalau ternyata para
warga hanya bermaksud memberikan pelajaran pada Pak Ketua. Dan sepertinya
berhasil. Pak Ketua menyadari kekurangannya dan dengan jantan dia meminta maaf.
Lampu buram itu, kini telah kembali benderang.
Mojokerto,
23 Maret 2018
No comments:
Post a Comment